AGUSTINA KUSUMA DEWI, 2020
Ethok Ethok

1:24 menit
Mix media 

KONSEP KARYA

Wong Jawa nggone’ rasa, pada gulangening kalbu, ing sasmita amrih lantip, kowowo nahan hawa, kinemat mamoting driya.” – Serat Kinanthi

Zaman berubah, manusia berubah, pun cara untuk membaca dan memaknai Buku. Buku sebagai kitab mengalami perluasan makna, tak hanya menjadi lembaran-lembaran kertas, namun bisa beralih medium pada bentuk yang sanggup melampaui zaman. Meski demikian, sejatinya Buku tetap diartikan sebagai Buku. Buku Diri, Buku Penanda Zaman, apa yang terbaca dan kemudian diikat menjadi satu, memiliki otonominya sendiri, sekaligus makna estetika yang dibangun dari beragam teks.

Video Art Instalasi Buku Seni berjudul Ethok-Ethok berangkat dari konsep diri Perempuan pada konteks kultural Kejawaan, tentang bagaimana Perempuan dituntut untuk menempa perasaan, bergulat dengan kalbu atau suara hati atau jiwa, agar pintar menangkap maksud yang tersembunyi dengan jalan menahan nafsu, sehingga akal bisa menangkap maksud yang sebenarnya. Tridatu adalah warna keselamatan. Benang coklat melambangkan tanah, “diciptakan dari tanah, kembali ke tanah”; demikianlah perjuangan perempuan. Sebagai diri di ruang sosial (Me), selalu dituntut menjaga keseimbangan antara (politik) dapur dan kasur. Sebagai diri di ruang pribadi (I), Perempuan baik adalah yang menjahit rapat-rapat tubuh dan kecamuk dirinya, menempa jiwa dengan mencerap beragam warna hidup ibarat menghikmati gerak peristaltik pada lambung; tak mengaduh gaduh, tak berteriak keras. Meski rapuh sebagaimana sebuah kertas tisu, namun Perempuan harus tetap berjuang menjaga kelembutan hati dan keindahan diri. Berkarya dalam senyap, menata kata, menata napas. Sebab sejauh apapun perempuan melangkah, perjuangan terbesarnya adalah bagaimana ia bertahan untuk tetap tinggal di rumahnya.