KARNA MUSTAQIM, 2020
Asemic as Writing as Drawing as Art as Book

120 x 30 cm (ditekuk lipat)
Variasi jenis kertas, hardboard, dan tinta cina 

KONSEP KARYA

Menulis asemik bermaksud menjelajahi ruang yang membelum (not yet), ketika bahasa belum terbedakan antara anulis dan anglukis (meminjam istilah dari Sanento Yuliman – Dua Seni Rupa). Menulis asemik merupakan menulis tulisan yang membelum, gambar yang belum menjadi gambar, tulisan yang belum menjadi tulisan.

Kita harus menunda dahulu (epoche) segala pra-konsepsi yang sudah terlebih dulu hadir secara apriori mengerangkeng (enframing) pikiran kita yang terlanjur menyejarah di wariskan dari orang tua kita, kakek nenek kita, buyut-buyutnya kita, lebih luasnya lingkungan hidup sekitar kita. Lalu membiarkanikan keasyikan menulis/menggambar datang kembali tanpa harus berpikir tentang maksud tujuan, alasan, rasional dan lain sebagainya.

Siapapun orang-orang yang tertarik dengan bentuk tanpa bunyi makna tertentu, dan membebaskan garis tulisan sebagai gambar sebagai tulisan, tanpa harus memikirkan makna, maupun artistik apalagi estetika dari permainan rupa asemiknya.

Kemunculan tulisan asemik menandai datangnya era post-truth, teks tulisan manusia yg memerlukan ribuan tahun utk sampai pada bentuknya yg sekarang ini, seakan-akan hilang kebenarannya karena ia juga diperalat utk membuat ‘hoax‘. Siapapun memunyai kebisaan utk menuliskan ‘pengetahuan’, maka jadilah teks yg kita kenali di pelbagai medsos sbg kuburan bagi matinya kepakaran (Nichols, 2018).

Kehadiran tulisan yang membelum aka asemantik atau asemik ini tanpa disengaja menandai era post-literate, setelah semua teks kebenaran hilang maknanya, maka apalagi yang tersisa utk dipercayai?

Akhirnya kita dipaksa utk memulakan kembali penghayatan atas kebelum-hadiran tulisan yang bermakna. Begitulah cara asemik mengadakan kelahiran dirinya pada kita semua.